Banyak penulis yang masih beranggapan paragraf pembuka itu seharusnya berisi ilustrasi tempat dan kapan sebuah cerita itu terjadi. Hal ini memang penting agar pembaca paham ruang lingkup dan batasan cerita yang akan dibaca. Namu hal itu tidak selalu harus berlaku demikian. Beberapa penulis, yang lebih kreatif dan menyadari bahwa paragraf pembuka itu adalah seperti halnya "etalase" yang berfungsi untuk menarik perhatian pembaca, melakukan usaha ekstra dalam memodifikasi paragraf pembukanya. Alih-alih menggunakan metode konservatif, penulis cerita model terakhir ini menyisipkan unsur suspense, kontras/paradoks, pernyataan "yang menggelitik", dan humor ke dalam paragraf pembukanya. Berikut ini adalah beberapa contoh:
Tidak ada yang pasti apa penyebab kematian Marry Joe. Banyak orang yang menyangka dirinya mati karena bunuh diri. Namun hal itu bertentangan dengan fakta yang ada, mengingat dirinya baru saja mendapat warisan dari ayahnya sejumlah beberapa milyar rupiah. Sebagian yang lain berpendapat bahwa Marry Joe dibunuh. Namun hal itu nyaris mustahil karena dirinya mati dalam keadaan kamar yang pintu serta jendelanya terkunci dari dalam. Dan ketika dirinya diketemukan mati, tidak ada orang lain yang berada di dalam ruangan itu bersamanya (suspense)
Sosok laki-laki itu benar-benar menarik perhatian. Ada yang salah pada dirinya entah disadari atau tidak olehnya. Caranya berpakaian menyiratkan bahwa dirinya tengah berperang dengan persepsi dirinya tentang usia. Celana jeans belel yang koyak di bagian lututnya serta kaos ketat yang dikenakannya benar-benar tidak pas dengan keriput-keriput pada wajahnya. Entah apa yang ada dalam benak laki-laki tua itu. (kontras)
Jika saja hidup ini segampang matematika, mungkin tak banyak orang harus terluka. Jika saja semua orang tahu bagaimana rumus mendapatkan hidup bahagia, mungkin saat ini aku bisa mengepak koperku dan terbang ke Bali untuk berlibur barang seminggu saja. Liburan hanyalah impian. Atau bahkan utopia untukku. Ketika aku berharap bisa mendapatkan waktuku sendiri, ada saja orang yang mengetuk pintu biro konsultasiku untuk memintaku menolong hidupnya. Satu yang mereka mungkin tidak tahu. Diriku pun butuh pertolongan juga. (pernyataan yang menggelitik)
Jika Anda merasa kurang nyaman dengan metode di atas dan lebih menyukai cara konvensional, yaitu dengan menggambarkan setting berlangsungnya cerita, maka setidaknya terdapat dua hal yang bisa Anda lakukan agar paragraf pembuka Anda tidak terkesan klise, yaitu: (1) memunculkan sesuatu yang ada padahal seharusnya tidak ada (seperti misalnya: pistol di laci meja guru) dan (2) menghilangkan sesuatu yang seharusnya ada (misalnya: sebuah keluarga yang anaknya hilang). Dengan cara itu pembaca akan bertanya-tanya apa yang sebenarnya tengah terjadi dalam cerita ini. Hal itulah yang kemudian akan membuat pembaca untuk mulai membaca cerita Anda. Selamat mencoba!
Tuesday, February 24, 2009
Cara Membuat Judul Yang Baik

Beberapa orang berpendapat bahwa membuat judul untuk sebuah karangan fiksi itu sulitnya bukan main, tetapi ada juga beberapa orang yang berpikir sebaliknya. Judul suatu karangan, sederhananya memiliki fungsi untuk merepresentasikan garis besar cerita, apa yang membedakannya dengan karangan yang lain. Judul karangan adalah taruhan bagi seorang pengarang. Judul karangannya yang menarik dan eye-catching namun tetap tidak norak, akan membuat pembaca tertarik untuk membaca keseluruhan cerita. Namun demikian, judul tidak melulu tentang bagaimana cara membuat pembaca tertarik untuk membaca cerita Anda. Judul harus benar-benar dapat memberi batasan kondisi “here and now” cerita Anda pada pembaca. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa judul juga berfungsi untuk menyetel “mental set” pembaca agar lebih siap dalam menikmati karangan Anda. Beberapa judul telah secara tidak langsung memberi tahu pembaca seperti apa karangan yang akan mereka baca, contohnya: “Misteri Pembunuhan Si Pendekar Kampus”, “Bangkit dari Kubur, “Cintapuccino”, dll.
Namun perlu diingat bahwa judul yang berlebihan malah akan dapat menjadi bumerang bagi Anda. Judul yang “too good too be true” bisa jadi membuat pembaca khawatir bahwa isi cerita di dalamnya tidak sedahsyat “aumannya”. Karena itu sebagai penulis, kita harus berhati-hati dalam menggarap judul. Judul yang kurang baik dapat membuat pembaca meninggalkan karangan kita sebelum sempat membaca paragraph pertama. Bagi penulis, itu adalah mimpi buruk.
Berikut ini adalah beberapa pertimbangan dalam membuat judul sebuah karangan.
1. Cara termudah untuk membuat judul adalah, percaya atau tidak, dengan menampilkan setting di mana atau kapan cerita itu terjadi. Karena itu banyak dijumpai karangan berjudul, “Di Lereng Bukit…..”, “Di Pantai ….., “Kisah Sedih di Malam Minggu”, dll. Saya memandang cara itu sebagai cara yang paling “kurang kreatif” dalam membuat judul. Cara itu satu tingkat lebih tinggi dari kondisi putus asa dan khawatir jika tidak dapat membuat judul yang baik. Saya hanya akan melakukan cara itu jika benar-benar sudah mengalami kebuntuan, dan agaknya semua cara yang saya lakukan untuk membuat judul yang lebih baik, gagal. Cara itu bisa berhasil baik untuk pembaca yang kebetulan punya ikatan dengan tempat atau waktu seperti yang ditampilkan di cerita itu. Namun tetap dilihat dari sisi teknik penyusunannya, saya tidak merekomendasikan cara itu. Terkadang beberapa penulis cerdik memanfaatkan tehnik ini dan dapat berhasil. Caranya adalah mengaitkan judul dengan setting yang memiliki nilai emosional tersendiri, contoh: peristiwa gempa bumi di Yogya, tsunami di Aceh, penaklukan puncak himalaya, dll. Saran saya adalah, jika Anda memang ditempatkan pada kondisi yang mengharuskan Anda menggunakan metode ini, pilihlah secara cermat setting yang ingin Anda tampilkan sebagai judul. Jangan sampai pembaca merasa bahwa setting di judul ini hanya sekedar tempelan, dan tak punya nilai urgensitas.
2. Cara terburuk lainnya untuk membuat judul adalah dengan menggambarkan dengan jelas sekali cerita Anda kepada pembaca, sehingga tanpa membaca cerita Anda pun, pembaca sudah bisa menebak akan ke mana cerita ini berakhir. Judul-judul senada : ”Tragedi....”, “Karma”, “Suatu Hari yang Sedih di….”, ”Kemalangan....”, sebaiknya tidak perlu sering-sering dipakai. Namun demikian saya tidak memungkiri ada beberapa penulis yang punya nyali untuk membuat judul ”Pembunuhan......” dan karangannya itu meledak di pasaran. Pada paragraf pertama, pembaca sudah disodori akhir cerita itu, yaitu meninggalnya ”Mr.....”. Namun demikian uniknya cerita itu mampu menggiring pembaca untuk sedikit demi sedikit membuka rahasia di balik kematian si tokoh di cerita itu. Cara itu adalah metode yang jenius, namun demikian tidak semua orang bisa melakukannya. Jika Anda tidak cukup percaya diri untuk melakukannya, cobalah cara yang biasa saja.
3. Banyak penulis yang berkonsentrasi pada rima judul yang mereka buat. Itu adalah suatu pertimbangan yang bagus, karena perpaduan bunyi yang bagus biasanya dapat menggelitik pembaca. Pembaca akan berpikir bahwa penulis yang menciptakannya pastilah seorang yang kreatif. Ini sudah cukup dijadikan jaminan bahwa cerita yang dihasilkannya pun tentu bagus.
4. Kita harus menyadari bahwa kadang kalimat yang pendek lebih efektif dan memiliki kesan lebih kuat daripada kalimat panjang yang bertele-tele. Coba saja, adakah kata makian yang terdiri dari kalimat yang panjang? Biasanya mereka malah terdiri dari dua suku kata saja. Namun demikian, jika Anda terpaksa harus membuat judul yang panjang, yakinkan bahwa Anda telah mencoba membacanya dengan keras dan juga menunjukkannya pada teman Anda, bahwa judul Anda tidak akan dipersepsikan lain. Panjangnya judul ini bisa disiasati dengan mensinkronkan bunyinya. Contohnya adalah salah satu karangan yang berjudul : ”Kutunggu Datangmu Hanya Untukku”
5. Salah satu cara kreatif dalam membuat judul adalah memunculkan suatu kontradiksi. Ini dilakukan dengan cara memuat dua atau lebih unsur yang bertolak belakang, misalnya ”You Love Me, You Love Me Not”. Dengan cara ini pembaca biasanya akan menjadi penasaran dan selanjutnya membaca karangan Anda untuk menemukan hubungan tersebut.
(Setidaknya) Tiga Hal yang harus dimiliki untuk sukses sebagai Penulis BestSeller

Salah jika kita masih beranggapan bahwa dunia sehari-hari seorang penulis hanya berkutat dengan kertas, alat tulis, atau komputer. Paradigma bahwa penulis adalah orang kesepian yang membangun dunianya sendiri di dalam pikirannya –sehingga batasan antara penulis dan penderita autis itu tipis- terbantahkan dengan makin banyaknya fenomena penulis yang menjadi seleb dadakan.
Sekitar seminggu yang lalu saya menghadiri diskusi buku Laskah Pelangi karya Andrea Hirata. Tahukan wahai kawan (sebaiknya saya mulai hati-hati menggunakan kalimat itu, karena di malam yang sama Andrea berniat untuk mematenkan kalimat tersebut), bahwa maksud kedatangan saya ke pertemuan itu adalah karena saya begitu terpengarahnya dengan kenyataan bahwa ada orang yang sebelumnya tidak punya pengalaman menulis fiksi (membaca buku fiksi sampai selesai pun hanya satu kali) berhasil membuat novel pertamanya best seller. Satu hal yang lain membuat saya penasaran, adalah bagaimana mungkin cara mengungkapkan cerita yang meledak-ledak -nyaris menurut saya tidak terorganisir dengan baik-, overlapping antara waktu saat cerita itu terjadi dengan sudut pandang penulis, panjangnya paragraph yang beresiko menimbulkan pembaca bosan, dan terjadi penggunaan istilah asing (nama latin untuk tanaman, dll) yang berlebihan bisa membuat tetralogi Laskar Pelangi bestseller?
Saya belajar bahwa tehnik menulis saja tidak bisa membuat Kita bisa menjadi penulis bestseller….
Di acara diskusi buku itu, saya dikelilingi oleh para penggemar Andrea yang mengelu-elukan. Beberapa orang bahkan sempat terang-terangan mengaku merinding melihat sosok Andrea. Saya merasa bahwa daya tarik fisik penulis adalah suatu modal, namun itu bukanlah yang utama. Saya melihat pada diri Andrea tersimpan kapasitas sebagai “ahli marketing” buku yang baik, di samping penulis tentunya.
Saya harus akui bahwa diri saya saat itu terbius oleh kepiawaian public speaking Andrea. Saya menjadi tak heran jika Laskar Pelangi akhirnya dapat terjual sebanyak tak kurang dari 500 ribu eksemplar. Sejenak saya tidak lagi meributkan tenang keterampilan tehnik penulisan Andrea yang kurang kuat. Saat itu tiba-tiba saya memaafkan kekurangannya itu sebagai sesuatu yang wajar mengingat Andrea adalah seorang mualaf fiksi (yang anehnya, malah sukses). Saya bersyukur masih ada Andrea, seorang anak muda yang cerdas, berwawasan, berideologi, dan yang lebih penting lagi adalah : punya impian.
Berkat malam itu, saya bisa merumuskan (setidaknya) ada tiga hal yang dibutuhkan agar dapat menjadi penulis bestseller :
1. Orisinalitas ide. Seorang penulis yang baik haruslah dapat menelurkan ide yang tidak bersifat kebanyakan. Penulis tersebut adalah orang yang mau bersusah payah untuk mengambil jalan memutar ketika kebanyakan orang memilih jalan yang lurus-lurus saja. Ia adalah orang yang berani menulis tentang bulan, saat orang kebanyakn tidak berani menulisnya sebelum benar-benar menginjakkan kaki ke bulan.
2. Cara pemaparan ide yang baik. Ini terkait dengan tehnik penulisan. Penulis yang baik haruslah mampu menyampaikan idenya dengan cara yang sistematis dan menarik. Penulis harus mampu bertempur melawan kebosanan pembaca, dan menang darinya. Ia adalah orang yang mampu menggambarkan bulan sehingga pembacanya merasa benar-benar menginjakkan kakinya ke bulan.
3. Kemampuan public speaking. Penulis yang baik adalah orang yang mampu untuk menumbuhkan tanggapan dari pembaca yang afirmatif. Ia adalah orang yang mampu untuk membuat pembaca mempersepsikan karangannya lebih baik daripada karya aslinya. Jika penulis tidak mampu mempresentasikan karangannya dengan baik ke hadapan publik, maka bisa jadi para pembaca yang sebenarnya potensial menjadi ragu untuk membeli. Namun penulis bukanlah penjual obat di pasar malam, yang berkoar-koar tentang keampuhan obat padahal dirinya sendiri tak yakin. Salah satu rumus untuk menjadi seorang public speaker yang baik adalah tidak ngotot, karena alih-alih dipersepsikan sebagai seseorang yang berkharisma, audiens malah akan menganggapnya kekanak-kanakan dan tidak bijaksana. Hal itu tentunya akan juga berpengaruh terhadap persepsi pembaca tentang buku yang ditulisnya. Penulis harus dapat menjual buku dengan kerendahan hati, dan ketinggian daya intelektual. Umumnya penulis yang baik berpendapat bahwa kesuksesan penjualan bukunya dikarenakan animo pembaca yang positif, ketimbang kehebatan si penulis itu sendiri. Hal ini bisa membuat pembaca merasa bahwa penulis adalah seorang yang rendah hati, dekat dengan mereka, sekaligus pintar karena mampu membidik pasar yang tepat. Para pembaca umumnya menyukai sosok penulis yang dewasa, pintar, dan bijaksana. Tetaplah optimis tanpa terkesan berlebihan. Tentunya Anda lebih suka dikenal sebagai penulis karena karyanya yang bagus ketimbang cara presentasinya yang norak, bukan?
Semoga sukses! Galang Lufityanto
Subscribe to:
Posts (Atom)
