Monday, February 23, 2009

Tesis: Antara Lemhanas, Uji Kesabaran, dan Segitiga Bermuda


Tadi pagi aku kirim sms nih ke DPT (Dosen Pembimbing Tesis) yang tersayang, berhubung hari ini nih rencananya jam 9.30 ada janjian mo konsultasi skalian bareng ama temenku...

Gini nih bunyi smsnya:
Assalamu'alaikum. Pak, ini Galang. Maaf sms pagi2. Cuma mau konfirm saja nanti saya dgn Lani jadi konsultasi dgn Bapak jam 9.30, kan? Matur nuwun. Wassalam
Pesan terkirim jam 06:15:02 am (sengaja soalnya kalo agak siangan biasanya Bapak balesnya lama, biasa orang sibuk, banyak yang diurusin....)

Selang beberapa saat, tepatnya pukul 06:20:11am, datanglah pesan dari beliau:
Mas Galang. Hari ini saya sibuk banget. Karena ada undangan tiba2 dari Lemhanas menjadi pembicara di Jakarta dalam penyusunan Indeks Kepemimpinan Nasional. Kita tunda ke Jum'at pagi pk 8.00. Ws.

Oh my God, padahal minggu yang lalu Bapaknya juga sibuk banget jadi gak bisa nyempatin konsultasi sama aku n Lani (temen seangkatan bimbingan tesisku).

Trus aku sms lagi:
Baiklah, tdk apa2, Pak. Saya akan sampaikan ke Lani. Tlng minta masukan Bapak skalian bsk jum'at ttng proposal tesis sy ya pak, agar bs sgera saya mulai kompre n intervensi. Rencananya saya akan mulai penelitian Maret ini. Trims atas bimbingannya. Galang
Pesan terkirim jam 06:26:45am

Eeh, ternyata Bapak bales sms-ku. Terkirim 06.48:36am
Ok Mas Galang. Lemhanas adalah lembaga tinggi negara yang akan tersinggung kalo sampai saya tolak permintaannya. Isinya kumpulan para jendral, mantan menteri, dan ilmuwan ternama. Diundang adalah suatu kehormatan. Harap maklum.

Aku baca sms itu berulang-ulang sambil khawatir kalo-kalo Bapakku tersayang itu tersinggung dengan pesan sms-ku. Aku buka folder SENT di HP-ku berulang-ulang untuk ngecek jangan-jangan smsku bernada ambigu, sinisme, n yang bisa diartikan salah. Jangan-jangan Bapak mikir nih aku sengaja mau nyindir Bapaknya kali. Kalo Bapaknya mikir aku gak tahu Lemhanas, emang bener (hehehehe), jadi harus nerangin aku watdehel Lemhanas is. Mungkin aku yang agak kurang peka (kayaknya udah gak cuma "mungkin" lagi, tapi udah "100% pasti"), tapi yang kutangkap dari pesan yang kukirim sendiri itu adalah aku sekedar kasih tahu ke Bapak kok kalo aku bener-bener mau nyelesain tesisku cepet-cepet.

Dan bukan salahku juga mau nyelesaian tesisku cepet-cepet, karena selain mahasiswa yang telat lulus kudu bayar 3 jeti untuk biaya kuliah semester depan, juga anjuran dari pengurus program S2 ku agar mahasiswanya cepet lulus. Kebetulan angka kelulusan di program S2-ku agak memprihatinkan. Setiap semester tuh sampe-sampe pengurus fakultas kudu nempelin daftar nama mahasiswa sejak angkatan pertama yang masih harus bayar SPP kuliah, yang sama aja artinya belum lulus. Jadi pihak pengurus sangat menginginkan agar kami segera cepet hengkang dari fakultas yang tercinta ini.

Nah, aku kadang bingung juga. Tuh pengurus ngomongnya biar kita cepet lulus, tapi tetep aja namanya birokrasi sucks! Mau ngajuin ujian kompre aja susahnya bukan main. Bukan susah ding, ribet. Harus yang nunggu hasil TOEFL kelar lah (yang hasilnya only God knows when it will finish, gitu deh), harus yang nunggu konfirmasi dari dosen pengampu kuliah Teknik Penyusunan Tesis lah, dan bejibun lah-lah lainnya. Padahal aku sama sekali gak protes pas persyaratan untuk ujian tesis ditambah supaya lebih berat daripada taon-taon sebelumnya. Seperti misalnya review jurnal dari yang 5 biji, ditingkatkan jadi 10 biji. Kagak apa-apa, soalnya pernah denger kan peribahasa, "Galang bekerja tiga kali lebih cepat daripada orang normal" He-eh, Galang itu manusia sombong dan gak normal abis....

Tapi kadang ketika kita udah bekerja maksimal, ada aja faktor eksternal yang let us down gitu deeh. Jadinya lama-lama males juga. Udah semangat-semangat cepet lulus, eeh ternyata respon dari luar malah melemahkan mental. But, I'm still hanging in there, Buddy, to show what myself is made of... Seharusnya penyusunan tesis tuh dibuat reality show kali ya, judulnya: uji kesabaran.

Trus nyambung dengan Tragedi Lemhanas, tuh, sama aja berarti aku mengalah demi negara, kan? Semoga pemerintah menyadari bahwa mengundang pembicara terkenal yang juga merangkap profesi sebagai dosen itu berakibat pada tertundanya kelulusan sekumpulan mahasiswa yang menjadi anak bimbingnya. Kalo misalnya, pemerintah nggak menyadari hal itu, yah gimana lagi ya namanya juga pemerintah. Mau diapain lagi?

Huu..huuu jadi pingin pindah ke Segitiga Bermuda yang nggak ada pemerintahan, universitas, dan tesis.

Paling-paling cuma ketemu siluman trus diajak ngilang bareng.

Sunday, February 22, 2009

ORB Novel Science-Fiction Terbaruku (Sorak-sorai bergembira, hip-hip-horay.....!)


Rasanya lega banget sodara-sodara ketika udah kelar nyelesain novel science-fiction yang keranka karangannya udah mulai dibuat sejak aku belum nyusun proposal skripsi (yep, it has been bloody ages ago....). Banyak lah alasannya. Tapi dari banyak alasan, hanya satu yang bener-bener bener (yang barusan itu namanya redundansi, sekalian review kembali pelajaran bahasa Indonesia kita), yaitu: KARENA AKU KETAKUTAN SENDIRI BUAT NULISNYA. Huuu....huuuu..., nggak jentel....
Novel itu lahir dari ketidakterimaan hidupku yang diinjak-injak oleh fenomena hantu n makhluk gaib yang membatasi gerak langkahku. Setiap kali main sama temen-temen pas adzan maghrib disuruh mami pulang soalnya ntar diculik wewe gombel, de el el. Pokoknya hal-hal seputar gaib sudah menjadi bagian dari hidupku sejak kecil.

Dan ini saatnya untuk berubah, dengan menggugat bahwa sebenernya makhluk gaib itu gak ngeri-ngeri amat loh (padahal akunya sendiri gak yakin, wong gak pernah ketemu, n GAK PINGIN KETEMU!!! Siapa tahu ada yang iseng mau bantu nemuin aku, thanks' eniwei gak usyah repot-repot....)

Jadi itulah asal mula niatanku nulis novel "ORB" itu. Bukunya udah ada di toko buku Gramedia n toko buku non-Gramedia (yang kayaknya juga banyak banget). Penerbitnya PT Tiga Serangkai, yak tul yang terkenal dengan buku-buku pelajaran sekolah. Tapi jangan khawatir, ORB gak akan keluar di ujian, tapi akan terbayang sampai alam mimpi... hiiii ngeri..
Ini nih sinopsisnya. Btw, ini bukunya serius lho, soalnya aku nulisnya pas lagi waras... Beli ya...!? Ya? Ya? Ya?

Seno telah bersahabat dengan apa yang dinamakan kesepian sejak dirinya dilahirkan. Kesepian begitu mengenalnya dengan baik hingga kemana pun Seno bersembunyi, kesepian tetap akan dapat menemukan dirinya. Dugaan dirinya adalah anak haram lah yang membuat Seno dikucilkan baik di lingkungan sekolah maupun keluarganya. Hidup Seno berubah drastis setelah dirinya bertemu dengan Gus.

Gus adalah spirit yang melindungi Seno dari ancaman orang-orang yang ingin melukainya. Gus juga lah yang pada akhirnya membakar rumah Seno dan membunuh semua anggota keluarga Seno –yang selama ini telah menganiaya Seno. Namun demikian Gus adalah satu-satunya teman bagi Seno. Lantaran hanya Gus lah yang mau perduli padanya, dan juga karena dengan caranya sendiri Gus telah mencelakai orang-orang yang berada di sekitar Seno.
Tim peneliti hantu didatangkan dari Amerika khusus untuk mendapatkan penjelasan atas fenomena Gus ini. Tim ini terdiri dari seorang doktor dalam bidang fisika, psikolog, fotografer, teknisi, dan cenayang. Mereka ini sebelumnya telah beberapa kali meneliti fenomena supernatural, di antaranya adalah orb, yang dianggap sebagai unit satuan terkecil dari spirit –atau yang dalam manusia disebut sebagai sel.

Permasalahan semakin bertambah rumit setelah terkuak fakta bahwa ternyata ada banyak kepentingan bercampur di situ. Tim itu tidak hanya harus berurusan dengan spirit, namun juga harus menghadapi ancaman CIA dan pihak-pihak jahat lain yang menginginkan informasi berharga tentang Gus. Padahal menghadapi ulah Gus saja tim ini sudah kewalahan. Gus menyerang dan membahayakan nyawa anggota tim ini berulang kali.

Lalu siapakah Gus sebenarnya? Dan apakah yang sesungguhnya dimaksud dengan orb itu? Apakah kemudian penelitian ini juga berhasil menjelaskan fenomena-fenomena supernatural yang selama ini sering terjadi dalam kacamata ilmiah?

Efektivitas Penyusunan Thesis terhadap Kehidupan Sosial Mahasiswa


Penyusunan thesis menimbulkan pengaruh yang besar terhadap kehidupan sosial mahasiswa Mapro Psikologi angkatan IV (Gwe, Gak, & Loh, 2009), hal ini dibuktikan dari tingkat kehadiran yang rendah di cafe-cafe, night-club, dan mall (Hu, Da, Hell, Ar, & Dem, 2008). Hal ini diduga karena tingkat kecemasan yang tinggi. Tingkat kecemasan yang tinggi disebabkan oleh beberapa persyaratan yang diberikan lebih berat pada tahun ini apabila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, seperti misalnya review artikel jurnal yang semula hanya 5 menjadi 10 buah (Cha, Pek, & Deh, 2009). Selain itu untuk bentuk intervensi diharapkan tidak hanya terbatas pada training saja, namun juga caring, flighting, shipping, becaking, dan bentuk-bentuk kendaraan lainnya. Intervensi secara individual juga diharapkan tidak terbatas pada coaching, namun juga oanjing, boajing, dan juga nama-nama hewan lainnya. Peran serta Dosen Pembimbing dalam penyusunan thesis ternyata dapat menurunkan tingkat kecemasan, seperti temuan penelitian terdahulu yang mencari pengaruh antara mahasiswa, dosen pembimbing, dan Tuhan. Temuannya adalah sebagai berikut: mahasiswa berusaha, Tuhan menentukan, dan Dosen Pembimbing melancarkan usaha mahasiswa dan Tuhan (Ai, Hop, & So, 2009). Hipotesis sementara dalam penelitian ini adalah night-club tidak buka pada bulan puasa, seperti yang dilansir dalam www.ora-nyambung-aku-ngerti-wis-rasah-protes-gek garap-proposal-kono.com.