Saturday, March 28, 2009

My life is full of shiT..ESIS

Woaah..., akhirnya setelah berjibaku selama beberapa minggu, kelar juga ujian kompre-horor hari Jum'at tanggal 20 Maret 2009 lalu. Dengan ditonton oleh beberapa orang saja (soalnya yang laen pada telat n gak boleh masuk ruangan sama dosen penguji, sukurin....hehehehe), akhirnya aku bisa kelar ujian kompre dengan KEBAKARAN JENGGOT......!!!!

Gimana nggak kebakaran jenggot, kalo kelar ujian kompre dosen penguji bilang penelitianmu kudunya nggak sesingkat itu, harus lebih lama lagi. Wuaduh..., bayanganku tentang Spanyol dan diriku pas diseruduk banteng pecah berkeping-keping luruh ke lantai (weiss...).

"Tambah lama, tuh tambahnya berapa lama, ya, Pak?" Tanyaku innocent dengan detak jantung yang berdentam-dentum.

Ketiga dosen pengujiku menatapku macam ngeliat orang idiot yang berhasil ujian kompre pertama kali dari angkatannya (gimana tuh jadinya?).

"Ya, sesuai sama teorinya yang kamu pakai."

Duh, harus muter otak. Jangan sampe eh jangan sampe rencana liburanku gagal. Not this time. Masak sudah sampe bolak-balik ke kantor imigrasi buat memperpanjang paspor, dikirain TKI petugas imigrasi (padahal pas itu aku lagi gak bawa kardus mie instan trus baju ama sepatuku matching lo), n ngurus bermacam tetek-bengek laiinya, masak ya gak jadi pergi sih? No way.

Akhirnya meski keluar dari ruang kompre dengan muka lesu, gotta suck this up and move on (but not quite yet). Belum meredakan gemuruh di dada, melesatlah diriku ke Fakultas Hukum untuk ngisi pelatihan jurnalistik di sana. Meski kecewa n panik setengah mati bakal lulus lebih lama dari rencana, aku kudu nepati janji jadi pembicara di Fakultas Hukum dunk. Profesional ceritanya.... Jangan sampe perasaan pribadi mencampuri profesionalisme, terutama kalo lagi butuh duit (weiss..)

Meski pas jadi pembicara mukaku ketekuk-tekuk n banyak bengongnya, untungnya aku sukses menyelesaikan tanggung jawabku. Tapi ternyata tanggunganku nggak hanya berhenti di situ aja. Besoknya aku kudu ngisi di dua acara. Ya ampun, kebayang nggak sih harus berbicara di muka umum pada saat hati tengah berkabung? Jadi tahu perasaan Dewi Persik pas lagi manggung padahal baru aja dicerai deh. Asal....

Akhirnya setelah masa "mengejar setoran" itu selesai, aku bisa fokus ke revisi proposal tesis. Duh, kayaknya kudu ganti beberapa nih. Tapi setelah aku ganti beberapa hal, KOK MALAH JADI SEMUANYA IKUT BERUBAH.....?!

Trus aku bandingin ama proposalku yang lama, revisiku ini beda banget. Judul beda, latar belakang beda, teori beda, intervensi gak nyambung, pengukuran beda. Dari proposal awal sampe proposal revisi yang sama cuma dua doang : jenis font ama ukuran font (kalo itu diitung aspek penting dalam tesis)... Aku gak bisa bayangin gimana ekspresi muka dosen pengujiku kalo tahu aku ganti banyak. Masih mending kalo mereka cuma bilang, "Ini revisi apa revolusi?", lha kalo tersinggung trus malang mutung piye?

Masak aku bilang "Pak, saya ini adalah spesimen manusia globalisasi. Pergantiannya serba cepat dan tidak terduga..." Gak bisa juga, kan? Keluh...

Jadi makanya kalo akhir-akhir ini aku malah keliatan makin sibuk, ya mohon dimaklumi. Soalnya aku kudu berusaha untuk lulus tepat waktu biar aku gak jadi batalin liburan. I need a vacation so bad. Tapi enggak liburan di Indonesia lah ya, kok kaya orang susah banget sih liburan kok cuma sekeliling Bali, Lombok, dan sekitarnya (kaya iklan Adzan Maghrib di TV)

Ya ampun, di saat menderita gini kok aku masih bisa sombong, ya?

Jangan-jangan karma niy?

Ya ampun...., tesis-tesis..... Belum juga dinikahi kok udah bikin kehidupanku menderita sih...?
Keluh....

Monday, March 16, 2009

Gala-(ng) Premiere Ujian Kompre Mapro Angkatan IV

Telah diketok palunya, telah ditalukan bunyi genderangnya (sing durung meh kompre rasah protes), bahwa mimpi-buruk-rangkaian-ujian-kompre-mahasiswa-magister-profesi-psikologi-UGM-angkatan-empat bakal dimulai besok jum'at jam setengah dua. Siapakah perawan yang dikorbankan dalam ritual kali ini, nggak lain n nggak bukan (jadinya apa ya?), adalah GALANG YANG KATA BANYAK ORANG MENDERITA NARSIS DAN WAHAM KEBESARAN INI.....

Setelah melewati masa-masa sulit, lorong-lorong panjang, dan jalan sarkem di siang hari..... setelah bertemu dengan dosen pembimbing yang sebenarnya baek hati tapi super sibuk, mematuhi birokrasi kampus yang kadang lebay, menanti Pak Gi yang sakit untuk minta surat keterangan lulus kuliah Teknik Penyusunan Tesis, akhirnya diriku diijinkan untuk ikut ujian KOMPREHORE sekaligus nyang pertama dari angkatanku. Ini adalah sebagai perwujudan tanggung jawab sebagai ketua angkatan biar memberikan contoh tauladan bagi para teman-teman, kacung, serta peliharaannya.... , dan juga menunjukkan perilaku ksatria seperti : MENINGGALKAN KAMPUS DAN TEMAN-TEMANNYA LEKAS-LEKAS UNTUK PERGI BELANJA DI SPANYOL DAN PERANCIS. Huahahahahahaha... (setan).

Anehnya, ketika ditanya beberapa orang bagaimana perasaanku akan menghadapi ujian kompre dalam hitungan beberapa hari, aku malah bengong.... Biasa aja lagi... Ditanya-tanya lagi oleh beberapa orang seakan ingin menemukan sesuatu, "Kamu nggak deg-deg-an gitu?"

Aku nanya balik, "Emang harus ya kompre pake deg-deg-an....?" Pake pasang ekspresi muka bego-bego mahasiswa yang terancam cum-laude gitu.... Oh ya, tapi bener juga ya kata temenku.., biar agar dramatis mungkin memang aku harusnya deg-degan... Jadi sampai sekarang aku lagi cari tahu gimana caranya bikin deg-degan... Mungkin dengan deg-degan dulu presentasiku di depan dosen jadi tambah bagus kali, ya? Semoga....

Tapi ya nggak papa, pokoknya nambah-nambah bacaan aja deh biar makin siap. Entah deg-degan entah nggak, dipikir ntar aja..

Monday, March 9, 2009

Slumdog Millionaire


Jujur, aku bukannya penggemar film India. Dari yang kutahu kalo mau nyewa VCD film India, biasanya ada tiga keping: satu buat cerita, satu buat nari-nari di tengah hujan, satu buat nangis-nangis. Tapi bagaimanapun juga, sampai saat ini aku masih berpendapat kalo film India cocok buat terapi emosi. Atcha..atcha...atcha.. (sambil geleng-gelengin kepala).

Film Slumdog Millionaire yang konon udah nyabet 8 piala Oscar emang beda dari tipikal film India yang biasanya. Kalo di film India adegan narinya ada di tengah dan nyaris sepanjang film, kalo di film garapan Danny Boyle adegan narinya.......ada di akhir film (gyahahaha sama aja dunk...). Dan tahukah Anda siapa Danny Boyle itu? Dulunya saya juga nggak tahu. Soalnya kayaknya tuh orang terkenal soalnya pas Acara Penghargaan Piala Oscar -yang kebetulan aku tonton- orang-orang pada tepuk tangan ketika nama Danny Boyle dibacakan. Dan setelah aku google, ternyata Danny Boyle itu adalah sutradara dari film Sunshine, 28 Days Latter, dan The Beach (yang diperankan oleh Leonardo diCaprio dan lokasi shootingnya di pulau terpencil di Thailand). Pantas, film-filmnya memang revolusioner. Nggak heran banyak orang yang menaruh hormat pada lelaki satu ini.

Back to movie, Guys. Jadi Slumdog Millionaire ini menceritakan pengalaman seorang anak yatim-piatu berusia 18 tahun bernama Jamal Malik yang berasal dari Mumbay India. Jamal dan kakaknya, Salim, bersama-sama dengan Latika, ketika kecil berhasil melarikan diri ketika di kampungnya terjadi pembantaian terhadap etnis India Muslim. Dalam tragedi itu, orang tua ketiga anak malang itu dibunuh dengan keji.

Nah, ketiga anak itu kemudian bertemu dengan seorang laki yang sekilas tampak baik, yang menampung anak-anak yatim piatu, memberinya tempat tinggal, dan juga makanan. Tapi ternyata lelaki itu hanya memanfaatkan anak-anak itu untuk mengemis, dan hasilnya dipakai untuknya. Lelaki dan komplotannya itu bahkan tega membuat buta anak-anak malang itu agar mereka mendapatkan banyak uang.

Film Slumdog Millionaire dimulai dari adegan flash-back ketika si Jamal Malik ini mengikuti kuis Who Want's to be A Millionaire yang berhadiah 20 juta Rupee (gak pake "-ah"). Penonton dibuat terbuai (duh bahasanya..) oleh kepiawaian Jamal menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan. Kesuksesan Jamal mengundang kecurigaan host pembawa acara tersebut yang kemudian memerintahkan kepolisian untuk menginterogasi Jamal untuk membuktikan bahwa dirinya curang. Bagaimana mungkin seorang Jamal Malik, yang hanya seorang office boy yang bertugas mengantarkan minuman teh yang berwarna cokelat (kemungkinan itu adalah Coffemix, trust me I know the colour...), bisa menjawab pertanyaan yang sulit -yang bahkan profesor dan guru besar tidak dapat menjawabnya.

Pada saat interogasi tersebut, terungkaplah alasan bagaimana Jamal dapat menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang ditanyakan tersebut ternyata berhubungan dengan fragmen kehidupan Jamal yang sungguh pelik. Jamal bukanlah seseorang yang jenius. Saya sangat ingat jawabannya yang lugas ketika ditanya oleh polisi, bagaimana bisa di menjawab semua pertanyaan yang diberikan di kuis tersebut.

Jamal menjawab, "Karena saya tahu jawabannya..." Keyeen....

Film itu sarat dengan ajaran moral namun hati-hati dalam menerjemahkannya. Kebetulan saya menonton film itu bersama adik saya. Dia berkomentar, "Wah ternyata nggak perlu sekolah tinggi-tinggi buat jadi sukses ya? Buktinya si Jamal..." Percayalah adik saya sedang meracau, dan saya yakin bukan itu maksud Danny Boyle menggarap film ini.

Film itu mengisahkan tentang kerja keras, perjuangan, integritas, dan semangat tak mudah menyerah. Melihat film ini dan khususnya setting tempat yang digunakan dalam film ini yaitu daerah perkampungan kumuh, saya jadi merasa tergugah untuk semakin mensyukuri kehidupan yang telah saya jalani, beserta segala suka dan dukanya. Sungguh saya tidak berhak mengeluh karena di luar sana ada banyak orang yang lebih membutuhkan ketimbang saya.

Film ini adalah film yang wajib Anda tonton. Beberapa adegan tampak klise, namun demikian sebagai penulis Anda bisa belajar sesuatu, terutama mengenai bagaimana cara alur cerita dibangun.